KEPALA Badan Penanaman Modal (BPM) NTB, Ir Jalal seusai menghadiri ekspose rencana pembangunan PLTMH di Mataram, Senin (19/1) mengatakan, dari basil studi, pembangkit tersebut layak dibangun dan kini dalam proses perizinan di pemerintah provinsi, sementara izin dari Pemkab Lombok Timur sudah keluar. "Kalau semua proses berjalan lancar, maka menurut rencana Maret 2009 PLTMH tersebut sudah mulai dibangun dan awal tahun 2010 sudah mulai beroperasi,"katanya seusai ekspose yang dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abdul Malik. la mengatakan, terkait dengan rencana pembangunan PLTMH tersebut pihak PT Nusantara Indo Energi akan melobi PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Barat karena nantinya yang akan membeli energi Isitrik yang dihasilkan adalah PLN. "Saya sudah meminta agar pembangunan PLTMH tersebut tidak sampai merusak potensi air terjun, karena merupakan salah saw obyek wisata yang ramai dikunjungu wisatawan domestik maunpun mancanegara," katanya.
Jalal mengatakan, rencana pembangunan PLTMH dengan memanfaatkan Sungai Putih tersebut juga akan dibicarakan dengan Pemkab Lombok Timur dan Pemkab Lombok Utara (KLU) terutama menyangkut penggunaan air. Menurut dia, selama ini air dari Sungai Putih tersebut belum dimanfatkan secara maksimal termasuk untuk irigasi, air sungai tersebut lebih banyak mengalir ke laut Namun, kata Jalal, mungkin Pemkab Lombok Timur dan Lombok Utara ada program untuk memanfaatkan air, karena itu masalah ini akan dibicarakan terlebih dahulu dengan dua kabupaten tersebut. "Pertimbangan dari Pemprov NTB untuk mengeluarkan izin pembangunan PLTMH tersebut adalah masalah pemanfaatan air, lingkungan dan masalah penggunaan Sungai Putih itu sendiri, karena itu masalah ini juga akan dibicarakan dengan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda), mudahmudahan tidak ada masalah," kata Jalal.
Sementara itu Divisi PLTMH PT Nusantara Indo Energi Ketut Oka Surasa mengatakan, energi listrik yang dihasilkan relatif murah dibandingkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), namun investasi awal untuk pembangunan pembangkit lebih tinggi. "Investasi awal yang dibutuhkan untuk pembangunan PLTMH mencapai enam juta dolar AS, namun biaya produksi lebih murah, sehingga kami menawarkan tarif Rp800 per KwH kepada PLN," ujarnya. Oka mengatakan, pembangunan PLTMH tersebut dilaksanakan Maret 2009, jika pembicaraan dengan PLN berjalan mulus terutama mengenai tarif yang ditawarkan bisa diterima.(ant)
(Koran Berita 20 Januari 2009 tanggal 20 Januari 2009)




Sektor Lombok


