Kawasan wisata Senggigi telah menjadi maskot pariwisata Lombok sejak tahun 1990-an. Bahkan ketenaran Senggigi mampu membuat rating dalam dunia pariwisata Indonesia. Di kawasan ini banyak berdiri hotel kelas bintang dan sarana pariwisata lainnya. Tak heran jika musim liburan tiba, Senggigi seolah berubah menjadi satu perkampungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

inset foto : Meja Pelayanan di UP Senggigi (kiri), Sejak empat tahun lalu rumah dinas ini dibiarkan tak berpenghuni (kanan)
Dalam mendukung gebyar dunia pariwisata, tak pelak urusan penerangan menjadi prioritas. Makanya, Sugambali bersama seluruh kru di unit pelayanan Sengigi terus membenahi pelayanan demi terciptanya suasana kekeluargaan dengan para pelanggan. ”Pelayanan kepada pelanggan menjadi prioritas kami,” tutur pak Gam, sebutan yang biasa dilontarkan para kru bagi sosok Sugambali.
Menurutnya, pelayanan yang cepat kepada pelanggan akan memberikan efek sangat bagus bagi kelancaran pembayaran. Walaupun ada saja pelanggan yang masih menunggak.

inset foto : Keluarga Besar Karyawan/Karyawati di UP Senggigi (kiri), Pelebaranjalan dari Simpang Lima Ampenan – Malimbu (kanan)
Bagi unit pelayanan Senggigi, persoalan yang cukup serius bukan pada sarana dan prasarana tapi memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Dan dengan komunikasi aktif bisa memberikan rasa nyaman bagi pelanggan.
Dengan jumlah pelanggan mencapai 4000 dan sekitar 65 persen adalah pelanggan bisnis (hotel-red) tentu perlu pelayanan lebih prima. Sayangnya, perbedaan waktu kliring antara bank luar negeri dengan bank dalam negeri menimbulkan persoalan dalam pembayaran rekening listrik. ”Kami komunikasikan bagaimana jalan tengahnya sehingga pembayaran rekening listrik tidak telat tanpa mengganggu aktivitas hotel,” jelasnya.
Agar pelayanan tidak tertumpu pada satu orang, jelas pak Gam keterbukaan antar seluruh kru patut dilakukan. Keterbukaan disini bukan berarti mengorbankan privacy tapi kepercayaan terhadap bawahan dalam menangani persoalan perlu dipupuk. Ini memberikan dampak, timbul kepercayaan diri dari personil bersangkutan. ”Walaupun begitu, kontrol tetap dilakukan,” katanya.
Rahmat, salah seorang kru unit pelayanan Senggigi mengungkapkan pemimpin yang baik adalah yang mampu mengayomi dan memberikan pandangan luas bagi bawahannya. Bila ini terjadi, pekerjaan seberat apapun akan dilakoni dengan senang hati. ”Kekeluargaan yang kami rasakan,” terangnya. (MN/wil)




Sektor Lombok


